Desa
Puraka II

Login Admin
Statistik Pengunjung
Info Aplikasi
Selamat Datang Di Website Resmi Desa Puraka II, Kec. Sei Lepan, Kab. Langkat

Info

Berita Nasional

Nilai Sejarah Kilang Pangkalan Brandan

Nilai Sejarah Kilang Pangkalan Brandan

WhatsApp Image 2023-03-20 at 10-09-37 

Membicarakan Sumur Minyak Telaga I tidak bisa dengan Kilang Minyak Pangkalan Brandan. Keduanya saling berkaitan. Catatan sejarah perjuangan bangsa juga melekat di sini.

Kilang Pangkalan Brandan yang dikelola Unit Pengolahan (UP) I Pertamina Brandan, merupakan salah satu dari sembilan kilang minyak yang ada di Indonesia, delapan lainnya adalah, Dumai, Sungai Pakning, Musi (Sumatera), Balikpapan (Kalimantan), Cilacap, Balongan, Cepu (Jawa), dan Kasim (Papua).

Ketika dibangun N.V. Koninklijke Nederlandsche Maatschappij pada tahun 1891 dan mulai berpoduksi sejak 1 Maret 1892, kondisi Kilang minyak Pangkalan Brandan, tentu saja tidak sebesar sekarang ini. Waktu itu peralatannya masih terbilang sederhana dan kapasitas produksi juga masih kecil.

Bandingkan dengan kondisi sekarang, kilang yang berada di Kecamatan Babalan Langkat saat ini berkapasitas 5.000 barel per hari, dengan hasil produksi berupa gas elpiji sebanyak 280 ton per hari, kondensat 105 ton per hari, dan beberapa jenis gas dan minyak.

Nilai sejarah kilang ini terangkum dalam dua aspek. Aspek pertama adalah memberi andil bagi catatan sejarah perminyakan Indonesia, sebab minyak pertama yang diekspor Indonesia bersumber dari kilang ini.

Momentum itu terjadi pada 10 Desember 1957, yang sekarang diperingati sebagai hari lahir Pertamina, saat perjanjian ekspor ditandatangani oleh Direktur Utama Pertamina Ibnu Sutowo dengan Harold Hutton yang bertindak atas nama perusahaannya Refining Associates of Canada (Refican). Nilai kontraknya US$ 30.000.

Setahun setelah penandatanganan kontrak, eskpor dilakukan menuju Jepang dengan menggunakan kapal tanki Shozui Maru. Kapal berangkat dari Pangkalan Susu, Langkat, yang merupakan pelabuhan pengekspor minyak tertua di Indonesia. Pelabuhan ini dibangun Belanda pada tahun 1898.

bumihangus-di-pangkalan-brandan 

Bumi Hangus

Sedangkan aspek kedua adalah nilai perjuangan yang ditorehkan putra bangsa melalui kilang ini. Kisah heroiknya berkaitan dengan Agresi Militer I Belanda 21 pada Juli 1947, yakni aksi bumi hangus kilang.

Aksi bumi hangus dilaksanakan sebelum Belanda tiba di Pelabuhan Pangkalan Susu, yakni pada 13 Agustus 1947. Maksudnya, agar Belanda tidak bisa lagi menguasai kilang minyak itu seperti dulu. Selanjutnya, aksi bumi hangus kedua berlangsung menjelang Agresi Militer II Belanda pada 19 Desember 1948. Tower bekas aksi bumi hangus itu masih dapat dilihat sampai sekarang.

Nilai histrois yang terkandung dalam aksi bumi hangus ini, terus diperingati sampai sekarang. Pada 13 Agustus 2004 lalu, upacara kecil dilaksanakan di Lapangan Petrolia UP I Pertamina Brandan, yang kemudian disekaliguskan dengan dekralasi pembentukan Kabupaten Teluk Aru, sebagai pemekaran Kabupaten Langkat.

Sebenarnya Belanda yang pertama sekali mempelopori aksi bumi hangus kilang Brandan. Karena menderita kalah perang, tentara Belanda membakar habis kilang ini pada 9 Maret 1942 sebelum penyerbuan tentara Jepang ke Tanah Air. Aksi serupa juga terjadi pada kilang minyak lainnya di Indonesia.

Namun, Jepang ternyata bisa memperbaiki kilang-kilang tersebut dalam tempo singkat. Bahkan ahli-ahli teknik konstruksi perminyakan yang tergabung dalam Nampo Nen Rioso Butai, unit dalam angkatan darat Jepang, mampu memproduksi kembali minyak mentah, bahkan mendapatkan sumur-sumur produksi baru.

Catatan yang ada menunjukkan, produksi minyak bumi Indonesia tahun 1943, saat Jepang berkuasa, hampir mencapai 50 juta barel. Sedangkan produksi sebelumnya pada 1940 adalah 65 juta barel. Hasil kilang pada 1943 sebesar 28 juta barel. Sedangkan pada tahun 1940 mencapai 64 juta barel.

Kembali ke kilang Brandan, seiring dengan kekalahan Jepang, kilang juga kembali mengalami kehancuran. Puluhan pesawat pembom Mustang milik sekutu melancarkan serangan untuk melumpuhkan basis logistik dan minyak yang telah dikuasai Jepang. Kejadian itu berlangsung pada 4 Januari 1945.

Telaga Tunggal 

Jejak Sumur Minyak Pertama di Indonesia

 Sebuah pertempuran hebat berlangsung di laut lepas antara Semenanjung Melayu dan pantai Aceh sekitar abad enam belas. Saling berhadapan, antara pejuang pejuang Aceh dan armada Portugis pimpinan Laksamana Alfonso D’Albuquerque yang berencana mendarat ke Aceh dalam rangka ekspansi pencarian rempah-rempah. Bola-bola api berterbangan dari kapal-kapal milik pejuang Aceh. Api pun membakar dua kapal Portugis, dan tenggelam!

Bola-bola api yang menjadi senjata utama rakyat Aceh dalam peperangan di laut tersebut, adalah gumpalan kain yang telah dicelupkan ke dalam cairan minyak bumi. Setelah dinyalakan, lantas dilentingkan ke arah kapal Portugis itu.

Sebuah catatan lain menyebutkan, pada tahun 1972 telah datang utusan kerajaan Sriwijaya ke negeri Cina. Utusan Sriwijaya itu membawa beragam cinderamata sebagai tanda persahabatan, termasuk juga membawa berguci-guci minyak bumi yang khusus dihadiahkan untuk Kaisar Cina.

Oleh orang Cina dimanfaatkan sebagai obat penyakit kulit dan rematik. Begitu juga dengan nenek moyang kita, di samping memakai cairan itu sebagai bahan bakar lampu penerang, pun memakainya untuk obat terhadap gigitan serangga, penyakit kulit dan beragam penyakit lain.

Kisah heroik pejuang Aceh dan muhibah utusan Sriwijaya tadi, merupakan kisah tentang awal mula diketahui adanya minyak bumi di Indonesia. Tetapi sejarah perminyakan di Indonesia, tidak terjadi Aceh atau Sumatera Selatan tempat Kerajaan Sriwijaya berada. Justru Sumatera Utara yang beruntung mencatat sejarah sebagai daerah tempat sumur minyak pertama ditemukan.

Persisnya sumur minyak pertama itu berada di Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, sekitar 110 kilometer barat laut Medan, ibukota Sumatera Utara.

Desa Telaga Said sendiri merupakan sebuah desa kecil yang, berada dalam areal perkebunan kelapa sawit. Pekerjaan utama masyarakatnya adalah buruh perkebunan. Dengan tingkat penghasilan yang rendah, maka dapat dikatakan taraf penghidupan ekonomi di desa ini rendah.

Tugu 100 Tahun 

Tugu 100 Tahun

Perjalanan menuju lokasi sumur minyak pertama di Desa Telaga Said, cukup melelahkan. Dari Medan butuh waktu dari Medan menuju Pangkalan Brandan, salah satu kecamatan utama Kabupaten Langkat. Dari Brandan ini, jarak perjalanan sekitar 20 kilometer lagi menuju Desa Telaga Said, melewati perkebunan sawit dan karet.

Memasuki jalanan desa, kesunyian mulai terasa. Kendaraan jarang berlalu-lalang. Lantas pada sebuah pertigaan, sebuah tugu akan terlihat agak mencolok di sebelah kiri jalan. Tugu itu adalah peringatan 100 tahun perminyakan Indonesia.

Tugu itu sendiri berbentuk semi silinder dengan tinggi sekitar dua meter, yang dibalut dengan marmer hitam. Pada bagian tengah tugu, di bawah logo Pertamina, terdapat tulisan, “Telaga Tunggal 1885 -1985”. Prasasti yang terdapat di sebelahnya bertuliskan, Tugu Peringatan 100 Th Industri Perminyakan Indonesia. Diresmikan Tgl 4 Oktober 1985, oleh Ir Suyetno Patmosukismo, Pimpinan Umum Daerah Pertamina Sumatera Bagian Utara.

Pada satu sisi, tugu minyak ini menjadi pertanda sumur minyak pertama sudah semakin dekat. Tetapi pada sisi lain, juga menandakan, akan segera berakhirnya jalan beraspal hotmix. Sekitar 20 menit berikutnya, memasuki tikungan yang ke kiri, jalan yang akan dilalui sudah tidak beraspal lagi karena telah tergerus. Debu beterbangan saat mobil melintas. Hujan sehari sebelumnya membentuk kolam-kolam kecil di tengah jalan.

Lokasi sumur minyak pertama itu sendiri dapat ditemui setelah berjalan kaki sekitar 200 meter dari lokasi tempat mobil dapat diparkirkan. Berjalan agak menanjak sedikit, selanjutnya akan didapati sebuah plang yang menjelaskan tentang riwayat singkat sumur pertama tersebut.

“Di sini telah dibor sumur penghasil pertama di Indonesia. Nama Sumur Telaga Tunggal. Ditajak 15 Juni 1885. Kedalaman 121 meter. Hasil minyak 180 barrel perhari dari lima lapisan batu pasir dengan formasi baong. Lapangan ditinggalkan tahun 1934.”

Dekat plang itu akan ditemukan ujung poipa besi bekas aliran minyak. Pipa itu terselebung semak belukar, pertanda areal ini memang tidak dirawat sebagaimana mestinya. Sebuah gundukan tanah terlihat di dekatnya. Gundukan itu diyakini sebagai kuburan Said, yakni petugas pengeboran yang hilang sewaktu melakukan pekerjaannya membangun sumur minyak pertama. Kuburan itu dikeramatkan, dan beberapa warga mengaku pernah melihat rambut Said di sekitar sumur itu.

Andil Aeliko Janszoon Zijlker 

Andil Aeliko Janszoon Zijlker

Penemu sumur minyak pertama ini adalah seorang warga Belanda bernama Aeliko Janszoon Zijlker. Dia ahli perkebunan tembakau pada Deli Tobacco Maatschappij, perusahaan perkebunan yang ada di daerah ini pada masa itu. Penemuan itu sendiri merupakan buah perjalanan waktu dan ketabahan yang mengagumkan. Prosesnya dimulai setelah Zijlker mengetahui adanya kemungkinan kandungan minyak di daerah tersebut.

Lantas dia menghubungi sejumlah rekannya di Belanda untuk mengumpulkan dana guna melakukan eksplorasi minyak di Langkat. Begitu dana diperoleh, perizinan pun diurus. Persetujuan konsesi dari Sultan Langkat masa itu, Sultan Musa, diperoleh pada 8 Agustus 1883.

Tak membuang waktu lebih lama, eksplorasi pertama pun segera dilakukan Zijlker. Tetapi bukan di tempat sumur minyak pertama itu, melainkan di daerah yang belakangan disebut sebagai sumur Telaga Tiga. Memang dari proses pengeboran di Telaga Tiga diperoleh minyak mentah (crude oil), tetapi hasilnya tidak begitu menggembirakan. Hingga tanggal 17 November 1884, setelah pengeboran berlangsung sekitar dua bulan, minyak yang diperoleh hanya sekitar 200 liter. Semburan gas yang cukup tinggi dari sumur Telaga Tiga, membuyarkan harapan untuk mendapatkan minyak yang banyak.

Namun Zijlker dan kawan-kawan tidak berhenti sampai di situ. Mereka kemudian mengalihkan kegiatannya ke daerah konsesinya yang berada di sebelah timur. Untungnya memang konsesi yang diberikan Sultan Musa cukup luas, mencakup wilayah pesisir Sei Lepan, Bukit Sentang sampai ke Bukit Tinggi, Pangkalan Brandan, sehingga bisa mencari lebih banyak titik pengeboran.

Pilihan kedua jatuh ke Desa Telaga Said. Di lokasi kedua ini, pengeboran mengalami sedikit kesulitan karena struktur tanah lebih keras jika dibandingkan dengan struktur tanah di Telaga Tiga. Usaha memupus rintangan struktur tanah yang keras itu, akhirnya membuahkan hasil. Saat pengeboran mencapai kedalaman 22 meter, berhasil diperoleh minyak sebanyak 1.710 liter dalam waktu 48 jam kerja. Saat mata bor menyentuh kedalaman 31 meter, minyak yang dihasilkan sudah mencapai 86.402 liter! Jumlah itu terus bertambah hingga pada 15 Juni 1885, ketika pengeboran mencapai kedalaman 121 meter, tiba-tiba muncul semburan kuat gas dari dalam berikut minyak mentah dan material lainnya dari perut bumi. Sumur itu kemudian dinamakan Telaga Tunggal I.

Penemuan sumur minyak pertama di Nusantara ini berjarak sekitar 26 tahun dari penemuan sumur minyak komersial pertama di dunia pada 27 Agustus 1859 di Titusville, negara bagian Pennsylvania, yang diprakarsai Edwin L. Drake dan William Smith dari Seneca Oil Company.

sumur-minyak-yang-pertama-di-balikpapan 

Bukan yang Pertama

Aeliko Janszoon Zijlker memang bukan orang pertama yang melakukan pengeboran minyak di Indonesia. Bahkan pada saat yang hampir bersamaan dengan Zijlker, seorang Belanda lainnya Kolonel Drake, juga tengah melakukan pencarian ladang minyak di Pulau Jawa, namun Zijlker mendahuluinya. Jauh sebelum itu, pada tahun 1871, seorang Belanda lainnya, Jan Reerink menjadi orang pertama yang membor bumi Nusantara untuk mencari emas hitam. kendatipun usahanya tidak berhasil. Reerink mencoba peruntungannya di Cibodas Tangat, Kecamatan Majalengka, Jawa Barat. Karena kurang pengalaman dan peralatan yang minim pemboran hanya berhasil mencapai kedalaman 33 meter. Tahun 1872 pemboran dihentikan karena banyaknya longsoran tanah.

Pemboran di lokasi kedua yang jaraknya sekitar semeter dari lubang pemboran pertama, berhasil menemukan minyak pada kedalaman mencapai 22 meter. Namun sepanjang tahun 1872 itu, mimnyak yang berhasil ditemukan tak lebih dari 6.176 kilogram saja. Usaha itu dinyatakan gagal total pada 16 Desember 1974, setelah berkali-kali gagal.

Namun kegagalan itu akhirnya dituntaskan Zijlker. Semburan minyak dari Sumur Telaga I jadi momentum pertama keberhasilan penambangan minyak di Indonesia. Nama Aeliko Janszoon Zijlker pun tercatat dalam Sejarah Pertambangan dan Industri Perminyakan Indonesia, sebagai penemu sumur minyak pertama dalam sejarah perminyakan di Indonesia yang telah berberusia 119 tahun hingga saat ini.

Telaga Tunggal I itu sendiri akhirnya akhirnya berhenti operasi pada tahun 1934 setelah habis minyaknya disedot pemerintah Belanda yang mengelola ladang minyak ini melalui perusahaan Bataafsche Petroleum Matschappij (BPM).

Patung Pahlawan 

Membingkai Masa Lalu Kota Berandan

Tekanan gas dari perut bumi terdengar mendesis lemah dan kadang tersendat. Suara itu berasal dari salah satu pipa besi tua yang berkarat di dusun Lokasi, desa Securai, Langkat. Gas yang mencari jalan keluar melalui pipa bor membawa serta minyak mentah yang seterusnya dialirkan lewat seuntai selang yang berakhir pada tumpukan puluhan drum sekitar 15 meter di dataran yang lebih rendah.

Baunya begitu menyengat. Minyak itu ditampung pada drum-drum bermuatan 209 liter (sekitar 1,5 barrel). Dalam satu hari, 3 petugas yang diupah Pertamina dapat mengumpulkan 3 drum (4,5 barrel) minyak mentah. Bila asumsi harga minyak sekarang ini US$ 60 per barrel, maka penghasilan sumur minyak yang sudah uzur itu sekitar US$ 270 per hari atau rata-rata US$ 8,100 per bulan atau setara dengan Rp 80.190.000. Apakah jumlah produksi yang kecil ini tercatat dalam kas pemasukan Pertamina, kita tidak tahu.

Meski hari ini angkanya sepele untuk sebuah kegiatan pengeboran minyak, tapi sumur inilah sisa terakhir dari awal kejayaan perminyakan di seluruh Indonesia. Masyarakat menamainya Telaga Said atau Telaga Tunggal. Nama Telaga Said muncul dari pengabadian nama seorang mandor (Mandor Said) yang hilang secara misterius di lokasi pengeboran. Kini warga memelihara keramat mendiang Mandor Said di sisi bekas pengeboran minyak pertama itu.

Telaga Said terdiri dari ratusan sumur sisa pengeboran. Tapi kini tinggal satu sumur saja yang masih mengeluarkan minyak. Pipa bornya pun tetap menggunakan sisa peninggalan Belanda. Praktis tidak ada pembaruan di sini. Pihak Pertamina tinggal mengambil isinya dan mengangkut drum-drum itu dua kali sebulan.

Memang ada sih upaya pengeboran baru sekitar 100 meter dari sumur pertama. Tapi kondisinya sangat lucu. Menurut warga, upaya-upaya itu sudah berkali-kali dilakukan, tapi hasilnya sampai sekarang hanya berupa sebuah lapangan yang diratakan, plus tiga sumur dangkal berisi air hujan. Sudah berapa besarkah dana pembuatan sumur-sumur dangkal itu dilaporkan dalam pos pengeluaran Pertamina, kita juga tidak tahu. Tapi mari mencoba melupakan soal-soal yang begituan!

Bila kita punya sedikit otak saja untuk melihat bekas pengeboran itu sebagai sebuah objek wisata yang sangat bersejarah, rasanya Anda akan setuju kalau nasib Telaga Said saat ini sangat menyedihkan. Sumur-sumur penampungan pertama tidak terurus dan hampir tenggelam oleh semak-semak. Bekas rumah-rumah pegawai Belanda yang agak masuk ke dalam, sudah jadi hutan, meski pondasi dan sebagian tiangnya masih dapat ditemukan. Masyarakat malah mempercayai hantu sudah bergentayangan di sana. Sial betul!

Padahal ada era besar yang pernah mempengaruhi sejarah politik dan mengubah peta kekuatan global di balik sisa tetesan minyak Telaga Said. Era itu bermula ketika A. J. Ziljker, pengusaha perkebunan tembakau asal Belanda, berhasil membor sumur produksi pertama di Telaga Said pada 15 Juni 1885. Sumur itu berkedalaman 121 meter dengan penghasilan 180 barrel per hari. Bila hasilnya dikonversikan ke nilai rupiah sekarang, maka penghasilannya adalah 180 barrel x US$ 60 x Rp 9.900 = Rp 106.920.000 per hari atau rata-rata Rp 3.207.600.000 per bulan. Itu baru satu sumur, lho. Bayangkan berapa penghasilan yang diraup perusahaan Belanda dengan ratusan sumur di sekitar Telaga Said.

Tak heran bila pada tahapan selanjutnya, Pangkalan Berandan sebagai pusat pengolahan minyak pertama di Indonesia berkembang menjadi kota yang melahirkan sebuah perusahaan minyak terbesar Asia di bawah bendera Bataafsche Petroleum Maatschapij (BPM) milik Belanda.

Keberhasilan Ziljker di Langkat memicu upaya-upaya eksplorasi dan produksi di daerah-daerah lain. Sebelum Jepang menduduki Indonesia, tak kurang dari raksasa-raksasa SHELL, STANVAC, NV NIAM dan CALTEX sudah bermain di negeri ini dengan sistem konsesi. Pada akhir 1944, Jepang melakukan pendudukan dan berhasil pula menemukan ladang minyak di Minas (Riau) yang kemudian berkembang menjadi ladang minyak terbesar di Asia Tenggara. Kolonial Jepang mengelolanya lewat perusahaan Sayutai.

Pas ladang-ladang itu diambil-alih pemerintah Indonesia (Pertamina), maka sejarah kebangkrutan pun dimulai. Hampir semua perusahaan minyak di dunia mengalami perkembangan dan metamorfosis menjadi perusahaan raksasa, tapi Pertamina tidak. Itulah yang harus kita bayar atas ketidakpedulian negeri ini terhadap semangat sejarahnya sendiri. Malu rasanya.

bumi_hangus_kilang_4  

Bumi Hangus

Ketika era pertumbuhan minyak bumi di Indonesia selesai bersamaan dengan berakhirnya pendudukan Jepang, sejarah perjuangan nasional juga mencatat bagaimana besarnya pengorbanan gerilyawan mempertahankan industri minyak sebagai aset strategis dari Agresi Belanda pertama tahun 1947.

Bagi pihak penjajah, kalau belum menguasai minyak di Pangkalan Berandan, berarti mereka belum sempurna menguasai Sumatra Timur. Tak heran, ketika pasukan Belanda dapat memenangkan pertempuran Medan Area, mereka langsung ofensif ke arah barat yang targetnya sangat jelas: minyak di Pangkalan Berandan dan sekitarnya.

Tapi pasukan Belanda yang ditugaskan khusus menguasai Langkat di bawah pimpinan Letkol. H. Kroes mendapat rintangan keras dari Batalyon Istimewa Divisi X TRI yang dikomandoi Kapten Agus Husin. Pasukan Belanda yang sudah sampai ke Securai, dipukul mundur sampai batas demarkasi Gebang. Untuk memperingati peristiwa tersebut, di Gebang telah didirikan Tugu Demarkasi. Beberapa hari setelah gagal melakukan penguasaan Pangkalan Berandan, pasukan Belanda merencanakan sebuah serangan besar-besaran.

Rencana tersebut bocor ke telinga para pejuang dari mulut seorang pengkhianat bernama Tengku Karma bin Tengku Sulaiman. Mata-mata Belanda yang diangkat sebagai kontelir Belanda di Tanjung Pura ini tertangkap pasukan TRI. Atas informasi itu, para pejuang bersiap siaga. Pertama, mereka menghancurkan jembatan Pelawi di gerbang masuk kota Pangkalan Berandan untuk menghalangi gerak maju tentara Belanda. Upaya ini tidak berarti karena pasukan Belanda yang melakukan pengepungan dari darat, udara dan laut, jauh lebih kuat.

Dua kapal perang (gun boat) milik Belanda memasuki alur Sei Babalan dan mendarat di Sei Bilah (dekat gedung Bioskop Surya). Belasan pesawat tempur mustang juga meraung-raung di atas kota. Situasi menjadi tegang dan para pejuang tidak lagi menguasai keadaan.

Pada momen yang genting itu, Panglima Divisi X TRI, Kolonel Husin Yusuf, memerintahkan Komando Sektor Barat dan Oetara (KSBO) Medan Area, Letkol Hasballah Hadji, untuk membumihanguskan instalasi industri perminyakan berikut objek-objek vital lainnya di Pangkalan Berandan dan Pangkalan Susu.

Surat perintah lanjutan dipersiapkan perwira operasi KSBO, Kapten Sudirman, dan ditandatangani Komandan KSBO, Hasballah, pada 12 Agustus 1947. Surat perintah itu diteruskan ke para komandan pioner pembumihangusan. Mereka masing-masing Lettu Usman Amir, Tengku Nurdin, Umar Husin, dan M. Yusuf Sukony. Salinannya juga ditembuskan kepada Pemimpin Plaatselijk Militair Commando, Mayor Nazaruddin, yang bertanggung jawab penuh atas keamanan umum dan keselamatan penduduk kota.

Tepat pukul 03.00 dini hari tanggal 13 Agustus 1947, seluruh instalasi dan fasilitas perminyakan di Pangkalan Berandan berubah jadi merah. Satu jam kemudian, giliran kota Pangkalan Berandan jadi lautan api. Situasi memanas, kota membara, dan perekonomian lumpuh total. Setiap tahun, peristiwa ini selalu diperingati warga kota Pangkalan Berandan yang perayaannya lebih meriah dari HUT RI 17 Agustus 1945.

Sepanjang sejarah pengalihan-pengalihan kekuasaan di Tanah Air, kota Pangkalan Berandan sebenarnya sudah 3 kali dibumihanguskan. Pertama dilakukan tentara Belanda pada 9 Maret 1942 ketika Jepang menyerbu masuk. Saat itu kerusakan tidak terlalu parah karena dilakukan secara tergesa-gesa. Yang kedua pada 13 Agustus 1947 sebagai bumi hangus terparah dan selanjutnya ditetapkan sebagai Hari Peringatan Bumi Hangus Pangkalan Berandan. Sedangkan yang terakhir dilakukan pada 19 Desember 1948 bersamaan dengan Agresi Belanda kedua.

Indonesia mewarisi industri perminyakan nasional dari puing-puing bumi hangus itu. Adalah nama Kolonel Ibnu Sutowo yang kemudian mencuat sebagai figur yang mengangkat kembali kejayaan industri perminyakan nasional. Untuk pertama sekali, tanggal 24 Mei 1958, ia berhasil memberangkatkan 1.700 ton minyak mentah ke luar negeri senilai sekitar US$ 30.000 dengan kapal tanker Shozui Maru. Kapal itu berangkat dari Pelabuhan Minyak Pangkalan Susu. Inilah sejarah ekspor minyak mentah pertama Indonesia.

Melihat usaha Ibnu Sutowo dan kawan-kawan, Kobayashi Group dari Jepang tertarik memberikan bantuan kredit US$ 53 juta dan teknik ke Pertamina (waktu itu namanya masih Permina). Kredit itu diberikan dalam bentuk perlengkapan industri dan suku cadang yang harus dikembalikan dalam bentuk minyak mentah selama 10 tahun operasi (1960-1970).

Indonesia sempat menikmati puncak kejayaan industri perminyakan karena diuntungkan dengan harga minyak internasional yang booming antara tahun 70-an hingga 80-an. Keuntungannya menjadi primadona sumber devisa Indonesia selama puluhan tahun. Tapi setelah itu, Pertamina yang resmi berdiri 10 Desember 1957 di Pangkalan Berandan ini gagal menghadapi berbagai masalah, mulai dari intervensi politik, korupsi, hingga kebobrokan manajemen. Sekarang Pertamina sudah jatuh miskin! Kalau dulu Pertamina menyokong APBN, sekarang malah membebani APBN.

bumi_hangus_kilang_1 

Jejak-jejak yang Tertinggal

Kota Pangkalan Berandan dan sekitarnya adalah sejarah yang mengubah dan melahirkan banyak hal. Di sini, jejak-jejak masa lalu bertebaran di mana-mana. Sebagian besar tak terurus. Sudah saatnya kita membingkainya kembali dalam satu album yang utuh, agar spiritnya tidak usang hingga ke masa mendatang.

Dari perspektif pariwisata sendiri, banyak peninggalan-peninggalan berharga yang layak dirawat dan dipertahankan. Hingga saat ini, kilang pengolahan minyak pertama masih berdiri di tengah-tengah Komplek Pertamina Pangkalan Berandan. Kilang pengolahan itu asli dari zaman Belanda dan sudah tiga kali menjadi sasaran pembumihangusan. Jejak-jejak yang sama dari ratusan tahun silam juga bertebaran di kawasan Telaga Said. Semua itu adalah peringatan dari sebuah alur cerita yang nyata. Bila dibiarkan dimakan rawa, kita telah membuang satu bagian penting dari sejarah nasional.

Yang tak kalah menarik, kota Pangkalan Berandan masih menyisakan satu komplek tua yang khas. Komplek yang memanjang di Jalan Sorong itu terdiri dari puluhan rumah panjang khas zaman Belanda dengan arsitektur Belanda. Dulu, perumahan ini dipakai para petinggi perusahaan minyak Belanda, dan sampai kini masih dipakai karyawan-karyawan Pertamina.

Bentuknya menarik sekali dan betul-betul menceritakan salah satu sudut kota Berandan di masa lalu. Pekarangannya luas dan lega, jendela-jendelanya lebar, dan ruangan bawahnya dibiarkan terbuka. Di sini, dulunya nona dan tuan Belanda beristirahat menikmati angin dan mengurus bunga-bunga di pekarangan. Menurut Asisten Media Hupmas UP I Pertamina Pangkalan Berandan, Firmansyah, turis-turis Belanda masih sering datang mengunjungi komplek tersebut untuk bernostalgia. Apakah kita akan terus buta?

Telaga Tunggal 2 

Pangkalan Brandan, Sumur Perintis Berusia 122 Tahun

Lapangan minyak Pangkalan Brandan tinggal kenangan. Setelah 122 tahun 'diperah', Pangkalan Brandan kini tak lagi menyisakan minyak dan gas dan akan ditutup oleh Pertamina. Inilah sekelumit kisah tentang Pangkalan Brandan. Kisah heroik pejuang Aceh dan muhibah utusan Sriwijaya merupakan kisah tentang awal mula diketahui adanya minyak bumi di Indonesia.

Namun sumur tidak ditemukan di Aceh, tapi justru di Sumatera Utara (Sumut), persisnya di Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, sekitar 110 kilometer barat laut Medan, ibukota Sumatera Utara. Penemu sumur minyak pertama ini adalah seorang warga Belanda bernama Aeliko Janszoon Zijlker, yang merupakan ahli perkebunan tembakau pada Deli Tobacco Maatschappij, perusahaan perkebunan yang ada di daerah ini pada masa itu. Penemuan itu sendiri merupakan buah perjalanan waktu dan ketabahan yang mengagumkan.

Prosesnya dimulai setelah Zijlker mengetahui adanya kemungkinan kandungan minyak di daerah tersebut. Ia pun menghubungi sejumlah rekannya di Belanda untuk mengumpulkan dana guna melakukan eksplorasi minyak di Langkat. Begitu dana diperoleh, perizinan pun diurus. Persetujuan konsesi dari Sultan Langkat masa itu, Sultan Musa, diperoleh pada 8 Agustus 1883. Tak membuang waktu lebih lama, eksplorasi pertama pun segera dilakukan Zijlker. Namun bukan di tempat sumur minyak pertama itu, melainkan di daerah yang belakangan disebut sebagai sumur Telaga Tiga. Namun minyak mentah yang diperoleh kurang menggembirakan. Dan pada 17 November 1884, setelah pengeboran berlangsung sekitar dua bulan, minyak yang diperoleh hanya sekitar 200 liter.

Semburan gas yang cukup tinggi dari sumur Telaga Tiga, membuyarkan harapan untuk mendapatkan minyak yang banyak. Namun Zijlker dan kawan-kawan tidak berhenti sampai di situ. Mereka kemudian mengalihkan kegiatannya ke daerah konsesinya yang berada di sebelah timur. Untungnya memang konsesi yang diberikan Sultan Musa cukup luas, mencakup wilayah pesisir Sei Lepan, Bukit Sentang sampai ke Bukit Tinggi, Pangkalan Brandan, sehingga bisa mencari lebih banyak titik pengeboran. Pilihan kedua jatuh ke Desa Telaga Said. Di lokasi kedua ini, pengeboran mengalami sedikit kesulitan karena struktur tanah lebih keras jika dibandingkan dengan struktur tanah di Telaga Tiga.

Usaha memupus rintangan struktur tanah yang keras itu, akhirnya membuahkan hasil. Saat pengeboran mencapai kedalaman 22 meter, berhasil diperoleh minyak sebanyak 1.710 liter dalam waktu 48 jam kerja. Saat mata bor menyentuh kedalaman 31 meter, minyak yang dihasilkan sudah mencapai 86.402 liter. Jumlah itu terus bertambah hingga pada 15 Juni 1885, ketika pengeboran mencapai kedalaman 121 meter, tiba-tiba muncul semburan kuat gas dari dalam berikut mintak mentah dan material lainnya dari perut bumi. Sumur itu kemudian dinamakan Telaga Tunggal I. Penemuan sumur minyak pertama di Nusantara ini berjarak sekitar 26 tahun dari penemuan sumur minyak komersial pertama di dunia pada 27 Agustus 1859 di Titusville, negara bagian Pennsylvania, yang diprakarsai Edwin L. Drake dan William Smith dari Seneca Oil Company.

Zijlker memang bukan orang pertama yang melakukan pengeboran minyak di Indonesia. Bahkan pada saat yang hampir bersamaan dengan Zijlker, seorang Belanda lainnya Kolonel Drake, juga tengah melakukan pencarian ladang minyak di Pulau Jawa, namun Zijlker mendahuluinya. Semburan minyak dari Sumur Telaga I jadi momentum pertama keberhasilan penambangan minyak di Indonesia. Nama Aeliko Janszoon Zijlker pun tercatat dalam Sejarah Pertambangan dan Industri Perminyakan Indonesia, sebagai penemu sumur minyak pertama dalam sejarah perminyakan di Indonesia yang telah berberusia 119 tahun hingga saat ini. Telaga Tunggal I itu sendiri akhirnya akhirnya berhenti operasi pada tahun 1934 setelah habis minyaknya disedot pemerintah Belanda yang mengelola ladang minyak ini melalui perusahaan Bataafsche Petroleum Matschappij (BPM).

Ketika ditinggalkan pada tahun 1934, jutaan barel minyak sudah berhasil dikeluarkan dari bumi Langkat melalui Sumur Telaga Tunggal. Beberapa sumur lainnya juga ditemukan di sekitar areal Telaga Tunggal I, namun juga sudah ditinggalkan sejak lama. Setidaknya ada empat bekas sumur minyak di sekitar itu. Lokasinya juga tidak tidak bergitu berhjauhan, hanya dipisahkan sebuah bukit. Tetapi setelah 119 tahun, sejak pemboran pertamanya, sumur itu ternyata tidak benar-benar kering.

Beberapa tahun belakangan, minyak menetes dari pompa minyak yang terdapat di situ. Tetesan minyak dari sumur-sumur di kawasan itu masih ada sampai sekarang. Sementara di beberapa sudut, minyak juga merembes, membasahi daun-daun kering dan rumput di sekitarnya. Tetesan minyak ini bukannya tidak berguna. Warga sekitar yang mengumpulkannya dalam drum, lantas dijual kepada kilang minyak Pertamina di Pangkalan Brandan untuk diolah menjadi BBM. Pertamina DOH NAD Area Operasi Pangkalan Brandan yang mengelola areal sejarah ini, memang mempunyai kebijakan untuk memberdayakan masyarakat untuk mengumpulkan sisa-sia minyak dari sumur. Selain untuk menjaga agar tidak terjadi pencemaran, juga untuk memberdayakan ekonomi masyarakat. Uang yang diperoleh dari penjualan minyak itu selanjutnya menjadi kas LKMD warga.

Membicarakan Sumur Minyak Telaga I tidak bisa lepas dengan Kilang Minyak Pangkalan Brandan. Keduanya saling berkaitan. Catatan sejarah perjuangan bangsa juga melekat di sini. Kilang Pangkalan Brandan yang dikelola Unit Pengolahan (UP) I Pertamina Brandan, merupakan salah satu dari sembilan kilang minyak yang ada di Indonesia, delapan lainnya adalah, Dumai, Sungai Pakning, Musi (Sumatera), Balikpapan (Kalimantan), Cilacap, Balongan, Cepu (Jawa), dan Kasim (Papua). Ketika dibangun N.V. Koninklijke Nederlandsche Maatschappij pada tahun 1891 dan mulai berpoduksi sejak 1 Maret 1892, kondisi Kilang minyak Pangkalan Brandan, tentu saja tidak sebesar sekarang sekarang ini. Waktu itu peralatannya masih terbilang sederhana dan kapasitas produksi juga masih kecil.

Bandingkan dengan kondisi sekarang, kilang yang berada di Kecamatan Babalan Langkat saat ini berkapasitas 5.000 barel per hari, dengan hasil produksi berupa gas elpiji sebanyak 280 ton per hari, kondensat 105 ton per hari, dan beberapa jenis gas dan minyak. Nilai sejarah kilang ini terangkum dalam dua aspek. Aspek pertama adalah memberi andil bagi catatan sejarah perminyakan Indonesia, sebab minyak pertama yang diekspor Indonesia bersumber dari kilang ini. Momentum itu terjadi pada 10 Desember 1957, yang sekarang diperingati sebagai hari lahir Pertamina, saat perjanjian ekspor ditandatangani oleh Direktur Utama Pertamina Ibnu Sutowo dengan Harold Hutton yang bertindak atas nama perusahaannya Refining Associates of Canada (Refican). Nilai kontraknya US$ 30.000.

Setahun setelah penandatanganan kontrak, eskpor dilakukan menuju Jepang dengan menggunakan kapal tanki Shozui Maru. Kapal berangkat dari Pangkalan Susu, Langkat, yang merupakan pelabuhan pengekspor minyak tertua di Indonesia. Pelabuhan ini dibangun Belanda pada tahun 1898. Sedangkan aspek kedua adalah nilai perjuangan yang ditorehkan putra bangsa melalui kilang ini. Kisah heroiknya berkaitan dengan Agresi Militer I Belanda 21 pada Juli 1947, yakni aksi bumi hangus kilang. Aksi bumi hangus dilaksanakan sebelum Belanda tiba di Pelabuhan Pangkalan Susu, yakni pada 13 Agustus 1947. Maksudnya, agar Belanda tidak bisa lagi menguasai kilang minyak itu seperti dulu. Selanjutnya, aksi bumi hangus kedua berlangsung menjelang Agresi Militer II Belanda pada 19 Desember 1948. Tower bekas aksi bumi hangus itu masih dapat dilihat sampai sekarang. Nilai historis yang terkandung dalam aksi bumi hangus ini, terus diperingati sampai sekarang. Pada 13 Agustus 2004 lalu, upacara kecil dilaksanakan di Lapangan Petralia UP I Pertamina Brandan, yang kemudian bersamaan dengan dekralasi pembentukan Kabupaten Teluk Aru, sebagai pemekaran Kabupaten Langkat.

WhatsApp Image 2023-03-20 at 10-30-30 

77 Tahun Pangkalan Brandan Bumi Hangus

Tanggal 13 belas bulan delapan tahun empat puluh tujuh Terjadi dalam kota Berandan, tambang minyak hancur luluh Tambang minyak dibumihanguskan dengan dengan dentuman terjadi Hingga kota jadi pemandangan sana sini jadi sepi Kobaran api kelihatan Asap mengepul di angkasa Dengan dentuman yang mengerikan Tambang tidak lagi jaya Berandan jadi lautan api Pendudukpun mengungsikan diri Berandan pada waktu malam Kota jaya jadi suram.

Apakah anda tahu lirik-lirik lagu tersebut? Beberapa pekerja yang pernah bertugas di Sumatera Utara (Kilang CDU Pangkalan Brandan, EP Pangkalan Susu, dan Gas) pasti tahu atau minimal pernah mendengar lagu tersebut. Mungkin juga beberapa pekerja Pertamina lainnya. Lirik-lirik tersebut merupakan kutipan dari lagu Pangkalan Brandan Bumi Hangus yang diciptakan oleh Mochtar Lubis.

Untuk pertama kali penulis mendapat kesempatan untuk mengikuti upacara puncak peringatan Pangkalan Brandan Bumi Hangus di lapangan sepak bola Petro Lia eks UP I Pangkalan Brandan. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang setiap tahun dilakukan menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI. Namun mungkin tidak banyak yang menyadari bahwa sejarah dan keberadaan Pertamina juga ada di sana. Bisa dimaklumi karena Pertamina sendiri resmi dibentuk pada tahun 1957, sepuluh tahun setelah kejadian tersebut.

Peristiwa Bumi Hangus Pangkalan Brandan pada dasarnya sama dengan apa yang terjadi di PTMN Kawenang/Wonosari, dan di Cepu yang pembumihangusannya dilakukan oleh Nandika dan pasukannya pada tanggal 19 Desember 1948. Namun, sejarah Pangkalan Brandan seharusnya memiliki arti yang lebih bagi Pertamina karena Kilang CDU/BBM Pangkalan Brandan merupakan kilang pertama yang dikelola Pertamina. Anda tentu dapat menyimaknya dalam Mars Pertamina pada lirik berbunyi... Pangkalan Brandan satu-satunya....

Pemerintah Kabupaten Langkat melalui Perda No. 8 Tahun 1995, telah menetapkan peristiwa ini sebagai salah satu hari bersejarah di Kabupaten Langkat. Bahkan dalam kesempatan memperingati 62 tahun Berandan Bumi Hangus, Gubernur Sumatera Utara berjanji akan memperjuangkan agar peristiwa tersebut dapat dinyatakan sebagai hari besar di tingkat propinsi bahkan nasional.

Dari peristiwa Bumi Hangus Pangkalan Brandan ada sebuah nilai penting yang sebenarnya dapat dipelajari dan menjadi semangat bagi kita untuk membangun Pertamina menuju perusahaan kelas dunia. Sebuah tulisan di prasasti Cikal Bakal Kilang Minyak yang masih dapat kita temukan hingga saat ini di dalam kompleks eks kilang CDU Pangkalan Brandan. "Tiada Alasan Untuk Bangga. Namun kerangka lapuk ini jadi saksi kami mengabdi untuk nusa dan bangsa".

Para pendahulu kita mampu membangun Pertamina dari sisa puingpuing bumi hangus pasca Perang Dunia-II, dengan segala keterbatasan tenaga dan dana, sehingga Kilang CDU/BBM eks BPM menjadi andalan dan modal utama bangsa Indonesia membangun industri dan pertambangan migas di negeri tercinta ini. Energi yang dihasilkan Permina masa itu dan Pertamina saat ini bukan hanya menjadi salah satu motor penggerak roda perindustrian dan perekonomian Indonesia, tapi juga sebagai penyumbang dana yang masih diandalkan.

Di saat banyak orang mencibir mengenai kemampuan laskar pejuang perminyakan masa lalu untuk mendirikan sebuah perusahaan industri dan pertambangan minyak, para pejuang perminyakan dengan penuh kejakinan dan kerja keras dibarengi kerja cerdas melalui tekad akhir mereka mampu menutup mulut orang yang mencibir mereka. Kalau generasi masa lalu yang memiliki kemampuan yang serba terbatas, konon pula generasi muda Pertamina yang telah memiliki disiplin ilmu yang beragam seharusnya lebih bisa lagi.

Walaupun saat ini status Kilang BBM Pangkalan Brandan idle bukan berarti kegiatan permigasan di Pangkalan Brandan juga ikut mati. Idle-nya Kilang Brandan tidak akan bisa menghapus sejarah kegemilangan kilang ini dimasa lalu. Mungkin suatu saat nanti Kilang BBM Pangkalan Brandan, cepat atau lambat akan bangkit kembali dengan lebih gagah dan ekonomis. Tanda-tanda kebangkitan Pertamina di Pangkalan Brandan setidaknya sudah mulai kelihatan, setidaknya saat ini di sana sudah ada PT Pertamina Gas area Sumbagut dan Salamander Energy (TAC Pertamina untuk pengelolaan Lapangan Glagah).

Belajar dari peristiwa dan fakta di atas maka seharusnya para pekerja Pertamina saat ini mulai berpikir dan merenungkan. Kita kini tidak membangun Pertamina dari kumpulan puing-puing bumi hangus, tapi hanya meneruskan kerja keras para pendahulu kita yang telah mewariskan perusahaan yang boleh dikatakan cukup besar.

Saat ini kita bisa saja mengatakan bahwa tantangan Pertamina cukup berat untuk mencapai kelas dunia, namun bila kita berkaca dari fakta sejarah tantangan para pendiri Pertamina juga tak kalah beratnya. Mereka telah membuktikan bahwa mereka mampu dengan mewariskan sebuah perusahaan besar bernama Pertamina kepada kita. Selanjutnya timbul tanda tanya besar, mampukah kita menjawab tantangan tersebut?

Para senior kita mampu, dan kita juga harus mampu. Tidak peduli kalau masih ada yang mencibir kemampuan generasi muda Pertamina. Justru disitulah tantangan terbesarnya, untuk membuktikan bahwa kita mampu. Dengan catatan, tentu saja harus dengan niat yang tulus dan kerja keras dibarengi kerja cerdas. Niat tulus tidak ada artinya bila tidak dibarengi kerja keras. Sedangkan kerja keras jika tidak dibarengi kerja cerdas juga tidak akan membuahkan hasil. Jadi ketiga rangkaian tersebut (Tulus, Kerja Keras dan Kerja Cerdas) harus jalan berbarengan. Seperti tagline iklan Pertamina yang saat ini kita sering lihat, "Kerja Keras adalah Energi kita", penulis akan melengkapi menjadi "Kerja Keras adalah Energi kita. Kerja Cerdas adalah Modal kita ".

Mengutip tulisan prasasti Cikal Bakal Kilang Minyak di eks UP Pangkalan Brandan. "Tiada Alasan Untuk Bangga. Namun membawa Pertamina menjadi perusahaan nasional kelas dunia"akan jadi saksi kami mengabdi untuk nusa dan bangsa".

 

(Dedicated By : E.Franjaya/Desa Puraka-II)

Beri Komentar

Komentar Facebook

layananmandiri

Hubungi Aparatur Desa Untuk mendapatkan PIN

Statistik Penduduk

Lokasi Kantor Desa

Alamat:Jalan Besitang Tangkahan Lagan, Puraka II Kecamatan Sei Lepan - Kode Pos .20857
Desa : Puraka II
Kecamatan : Sei Lepan
Kabupaten : Langkat
Kodepos : 20857

Peta Wilayah Desa