Desa
Puraka II

Login Admin
Statistik Pengunjung
Info Aplikasi
Selamat Datang Di Website Resmi Desa Puraka II, Kec. Sei Lepan, Kab. Langkat

Info

Berita Nasional

KILANG SAYUTAI DI PANGKALAN BERANDAN

KILANG SAYUTAI

DI PANGKALAN BERANDAN

Kilang PB 

Kilang Minyak dan Pelabuhan Pangkalan Berandan

Kalender menunjukkan tanggal 1 September 1939, peta politik dunia pun berubah tersebab Perang Dunia II telah pecah. Pada tahun 1941 sebagian besar benua Eropa telah dikuasai oleh Jerman danb Italia. Pemerintah Hindia Belanda pun tentu saja khawatir menghadapi perkembangan peperangan. Di Asia, Jepang telah berkembang sebagai negara modern, memerlukan bahan bakar mineral, minyak bumi dan lain-lainnya, yang selama ini harus di impor-nya.

Negeri  Matahari Terbit  ini, pada Agustus 1941, melalui kata sandi  ”Tora Tora Tora” yang dikeluarkan oleh Markas Besar Angkatan Bersenjata di Tokyo. Maka oleh satuan Kapal Induk Jepang yang berada kira-kira 270 mil dari Kepulauan Hawaii melancarkan serangan.

Formasi Pesawat Udara dari Angkatan Udara pertama ditugaskan menyerang Kesatuan Kapal-kapal penjelajah Amerika Serikat  di Pearl Harbour pada hari Minggu pagi 7 Desember 1941.  Admiral  Isoroku Yamamoto adalah perencana pemboman Pearl Harbour sebagai perlindungan terhadap serangan Jepang ke Indonesia, yang diincar tambang minyaknya.

Hari berikutnya, tanggal 8 Desember 1941, Amreika Serikat, Inggeris dan Belanda dan lain-lainnya menyatakan perang terhadap Jepang. Serbuan serbuan ke Asia Tenggara dilancarkan dengan cepat, Indonesia diserang dari dua arah, dari Kalimantan dan dari arah Sumatera. Pasca peristiwa pemboman Pearl Harbour hampir semua pimpinan perusahaan perminyakan diseluruh Wilayah Hindia Belanda telah dapat petunjuk dari Kantor Pusat  masing-masing untuk melakukan tindakan penyelamatan atau pengrusakan instalasi, bila sewaktu-waktu menghadapi serbuan pasukan Jepang. Instruksi Bumi Hangus dilakukan oleh Komando Militer Belanda. Perusakan terhadap sumur produksi delakukan dengan memasang pipa didasar sumur, bahkan yang sederhana adalah memasukkan besi tua atau potongan baja, sedangkan untuk kilang, tangki dan instalasi dengan jalan meledakkannya dengan dinamit.

japanese-soldiers-pg-002 

Tentara Penyerbuan Jepang

Aksi bumi hangus dan perusakan oleh Belanda di lapangan-lapangan minyak di Pangkalan Berandan, dilaksanakan pada tanggal 9 sampai 11 pebruari 1942, tentara dan teknisi Belanda melakukan pembumi hangusan Kilang Pangkalan Berandan dan sekitarnya dilakukan oleh ratusan orang yang sebelumnya telah dilatih dengan baik untuk menghabisi apa saja yang terdapat dipermukaan tanah dengan bahan peledak. Perintah pembumi hangusan dan segala sesuatunya berjalan dengan sebagaimana yang telah direncanakan.

bumihangus-di-pangkalan-brandan 

Aksi Bumi Hangus  dilapangan Minyak Pangkalan Berandan dilaksanakan oleh Belanda pada Pebruari 1942

Tentara Jepang masuk ke Pangkalan Berandan, pada tanggal 13 Maret 1942, namun sebelumnya ketika Pasukan Belanda akan mengundurkan diri ke tanah alas karena tidak sanggup menahan serbuan tentara Jepang yang bergerak dari dataran rendah. Kompleks Perusahaan tambang minyak di Pangkalan Berandan dan Pangkalan Susu, terutama penyulingan Kilang minyaknya dibumi hanguskan oleh Verielings Corps tentara Belanda pada tanggal 9 Maret 1942, setelah perusakan dan pembumi hangusan, tentara Jepang mendapati keadaan kilang minyak bumi di Pangkalan Berandan dalam keadaan rusak.

Pada awalnya, kedatangan bala tentara Jepang ke Pangkalan Berandan disambut oleh rakyat dengan gembira, karena dianggap sebagai tentara pembebasan dari belenggu penjajah Belanda. Akan tetapi segera rakyat mengetahui dan merasakan sendiri, bahwa ternyata Jepang lebih kejam dari Belanda. Belum sebulan Jepang berkuasa, rakyat sudah merasakan berbagai tindakan tentara Jepang yang ringan tangan terhadap siapapun, baik orang tua maupun pemuda, pria dan wanita, bahkan makanan maupun pakaian seluruhnya dikuasi oleh Jepang. Suasana perang sampai kedesa desa, lubang-lubang perlindungan dipaksa untuk dibuat. Begitulah gambaran umum masyarakat pada waktu itu, peranan Polisi Militer Jepang yang terkenal dengan nama ”Kempetai” sangat ditakuti rakyat.

japan_Seinendan 

Latihan dasar Kemiliteran oleh Pasukan Jepang

Sejak masa pendudukan jepang, rakyat di Pangkalan Berandan miskin sandang serta makan, rakyat tidak boleh dikata hanya makan umbi dan bonggol  pisang, sanggup memasak jagung ataupun gaplek merupakan menu yang dianggap istimewa.

Pihak militer Jepang menempatkan Kagiyama sebagai kepala Pemerintahan Daerah Kabupaten Langkat yang berkedudukan di Binjai dengan sebutan Gunseibu, sebagai Pimpinan Perusahaan Tambang Minyak di Pangkalan Berandan, Nakamura dengan merobah BPN menjadi SAYUTAI.

Stelah Jepang menguasai Kilang Minyak Pangkalan Berandan, mulailah Jepang menyusun rencana untuk mengeksploitasi minyak bumi yang ada di sekitar Pangkalan Berandandan memeras rakyat guna kepentingan perangnya. Dengan menanamkan jiwa budak, mudahlah bagi Jepang merampas hak milik dan tenaga kerja rakyat. Maka menjelmalah Romusha, perbudakan diabad ke 19 ciptaan Jepang. Romusha itu adalah rakyat Indonesia yang dijadikan kuli, buruh yang dipaksa dan diperas tenaganya untuk bekerja membuat jalan dan benteng benteng untuk pertahanan militer Jepang.

romusha 

Romusha, Perbudakan diabad ke 19 Ciptaan Jepang

Banyak tenaga kerja perminyakan kemudian dipanggil untuk bekerja dalam rangka Rhabilitasi lapangan dan kilang – kilang minyak. Dalam kegiatan ini banyak ketrampilan teknis diperoleh disamping keberanian dan kepercayaan pada diri sendiri yang ditanamkan oleh Jepang. Dalam situasi seperti itu Jepang memberikan kesempatan bagi pemuda-pemuda disekitar Pangkalan Berandan untuk mendapatkan pendidikan perminyakan. Selain mata pelajaran teknis , bidang kemiliteran dan disiplin sangat diperhatikan dilembaga lembaga pendidikan itu.

Selanjutnya  latihan militer diperoleh setelah dibentuknya badan-badan seperti  Seinendan, Kaibodan, Pembela Tanah Air (PETA), Gyugun dan Heiho.

Kesempatan ini dipergunakan oleh para pemuda Pangkalan Berandan, ternyata mereka yang pernah dilati dalam badan-badan inilah nantinya pada masa revolusi tampil memegang peranan penting dalam menghadapi Pasukan Belanda yang datang hendak menjajah kembali negeri ini.

Dilingkungan Kilang Minyak Eks BPM di Pangkalan Berandan, hampir 70 % sarana dan prasarana perindustrian minyak dan gas bumi dalam keadaan rusak. Akan tetapi hal tersebut tidak menimbulkan keputus asaan pihak Jepang, karena tampaknya segala sesuatu resiko peryerbuan ke Indonesia telah diperhitungkan sebelumnya.

Diantara anggota tentara Jepang yang menduduki kilang minyak Pangkalan Berandan terdapat ahli-ahli tehnik konstruksi perminyakan, sehingga sambil menunggu didatangkannya tenaga ahli dan tehnisi perminyakan dari Jepang, mereka segera memperbaiki kerusakan-kerusakan yang mingkin dapat ditangani. Tenaga-tenaga perminyakan ini tergabung dalam Nanpo Nen Rioso Butai dibawah naungan Angkatan Darat  Jepang. Markas besarnya ditempatkan di Singapura dibawah Komando Jendral Yamada, cadangannya di Pangkalan Berandan, diberi nomor kode 15850 dan berkantor Pusat di Medan.

Dengan kedatangan sejumlah ahli dan teknisi Jepang serta pemanggilan kembali para pegawai perminyakan Indonesia yang tadinya bekerja di BPM , Stanvac, Caltex dan lain-lainya, usaha Jepang membuahkan hasil serta prestasi luasr biasa. Dalam waktu yang singkat Jepang telah mampu memproduksi kembali minyak mentah maupun bahan bakar minyak. Sementara perbaikan instalasi Kilang dan lapangan dilakukan dengan tambal sulam, menggunakan peralatan dan suku cadang yang belum terpakai.

Produksi minyak bumi pada tahun 1943 hampir mencapai 50 juta barrel, sedangkan produksi sebelumnya pada tahun 1940 adalah 65 juta barrel. Hasil kilang pada tahun 1943 sebesar 28 juta barrel, sedangkan pada tahun 1940 mencapai 64 juta barrel.

Selama pendudukan Jepang, IMW 1899 produk kolonial Belanda itu tidak lagi digunakan dunia pertambangan dalam negeri ini. Yang berlaku waktu itu adalah ”Hukum Perang”. Jepang dalam bentuk pemerintah Militer Jepang. Kilang minyak Pangkalan Berandan yang tadinya berkapasitas 300 ton, setelah di Rehabilitasi dapat ditingkatkan produksinya menjadi 1.000 ton per hari !!.

Memang Jepang lebih mengutamakan semua itu demi pelicin mesin perangnya yang haus bahan bakar, ini dapat dilihat Kilang Minyak Pangkalan Berandan yang hanya sebagian kecil saja yang diperbaiki kembali oleh Jepang, hanya unit-unit vital yang erat kaitannya dengan jalannya operasi kilang minyak yang diperbaiki, sehingga dapat mengolah minyak mentah menjadi penggerak mesin-mesin perangnya yang dahaga bahan bakar.

DSCN2634 

Menara Pengeboran yang di usahakan SAYUTAI Jepang

Suatu kemajuan bagi buruh perminyakan indonesia ialah diperolehnya kesempatan lebih luas untuk menempati kedudukan yang lebih tinggi yang memang sanggup dilaksanakannya, yang mana pada zaman penjajahan Belanda hanya boleh dijabat oleh bangsa Belanda saja. Salah seorang tenaga bangsa Indonesia yang mendapat kesempatan menduduki jabatan tinggi di Kilang Minyak SAYUTAI ialah S.H.Supardan, seorang tenaga Administrasi yang mulanya bekerja sebagai pegawai menengah di Perusahaan Minyak di Plaju, Sumatera Selatan. Ia di mutasikan Jepang menjadi Kepala Bidang Administrasi di Perusahaan Tambang Minyak SAYUTAI di Pangkalan Berandan pertengahan Tahun 1942.

Dari kalangan buruh tambang minyak Pangkalan Berandan, terdapat  DJOHAN yang merupakan pemimpin dari laskar minyak yang dibentuk. Ia adalah seorang bekas pegawai SHELL yang dahulu pernah dikirim ke Negeri Belanda selama 6 bulan untuk menambah ilmu pengetahuan perminyakan, dan dia juga yang ditugaskan oleh Belanda untuk membumi hanguskan Pangkalan Berandan sewaktu Belanda mau meninggalkan tempat itu, tapi DJOHAN menolak melakukannya, karena merasa sayang membinasakan sesuatu yang ia ikut membangunya. Dengan demikian buruh-buruh minyak Indonesia mulai memegang jabatan-jabatan penting dan bertanggung dalam perusahaan tambang minyak di Pangkalan Berandan.

Teknisi Jepang bersama buruh minyak pribumi, ternyata berhasil melaksanakan program rehabilitasi, bahan bakar minyak dari Kilang Minyak Bumi SAYUTAI di Pangkalan Berandan mulai dipakai untuk keperluan perang maupun untuk keperluan domestik di Negara Matahari Terbit itu. Jepang yang pada waktu pecahnya perang hanya mempunyai cadangan minyak yang cukup untuk perang laut selama 18 bulan, ternyata memerlukan minyak antara lain di Indonesia. Namun bahan bakar yang dikirim lewat laut ke Jepang. Dihadang oleh kapal selam dan pesawat tempur milik sekutu, sehingga hanya sebagian saja yang sampai ketujuannya.

Waktu terus berpacu, kekuatan pasukan perang Jepang di Pasipic mulai mengendor, pada hari kamis tanggal 4 Januari 1945, pesawat sekutu melayang-layang diatas Kota Pangkalan Berandan, komplek Perusahaan Tambang Minyak Pangkalan Berandan dan Pangkalan Susu mendapat serangan mendadak, pesawat jenis Pembom Sekutu melakukan bombardir, Kilang Minyak ditembaki  senapan mesin, para buruh minyak lari lintang pukang keluar kilangdan bersembunyi dibalik tembok gedung, dibawah pepohonan ataupun dalam selokan. Akibat serangan mendadak pasukan sekutu, kembali  instalasi tambang minyak mengalami kerusakan hebat, korban jiwapun tidak sedikit yang jatuh baik dari kalangan buruh tambang minyak, maupun dari kalangan tentera jepang dan Heiho yang berbangsa Indonesia. Akan tetapi, sekali lagi dengan sangat cepat direhabilitasi oleh Jepang, karena Jepang sangat membutuhkan minyak bagi mesin-mesin perangnya.

DSCN2636 

Pekerja Tambang Minyak Jaman SAYUTAI di Pangkalan Berandan

Tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, Bom Atom dijatuhkan oleh Angkatan Udara Amerika Serikan di Hiroshima dan kemudian di Nagasaki, kedua kota tersebut kemudian hancur musnah seketika. Yang pasti akhirnya Pemerintahan Jepang menyerah kalah tanpa syarat dengan Pihak Sekutu, Kalender menunjukkan tanggal 14 Agustus 1945 mengakhiri kedigjayaan Jepang dalam Perang Dunia II.

Sesudah bertekuk lututnya Jepang kepada Pihak Sekutu di Penghujung Perang Dunia II, pada waktu Sekutu tidak bisa hadir menduduki dan menerima penyerahan kekuasaan dari Jepang atas Wilayah Indonesia. Momen tepat itu dimanfaatkan secara jitu oleh Pejuang Pergerakan Kemerdekaan Soekarno – Hatta sebagai pemimpin terkemuka disaat genting itu agar segera mem ”Proklamasi” kan Kemerdekaan Indonesia.

post-image-1597657027668 

Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan Teks Proklamasi yang dibacakan oleh Ir. Soekarno

Catatan serangkaian perlawanan yang akhirnya membawa bangsa Indonesia ke Pintu Gerbang Kemerdekaan itu sangat berliku dan panjang, seluruh suasana dan peristiwa itu tidak bisa tidak menyangkut hidup seluruh rakyat dan penduduk di seluruh wilayah Republik Indonesia, termasuk berkaitan langsung dengan kehidupan dunia Perminyakan di Pangkalan Berandan. Setelah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, berita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia itu, berkumandang ke seluruh pelosok Nusantara dan di dengarkan oleh seluruh Bangsa Indonesia.

Dengung Proklamasi telah di dengar rakyat Pangkalan Berandan, ini berarti Pihak Jepang yang berkuasa didaerah itu tentu mendengarnya juga. Namun, tampaknya mereka enjoy saya, pura-pura tidak tahu. Sementara suasana semakin memanas, gerak gerik tentara Jepang menjadi incaran penduduk. Dibeberapa tempat tampak para pemuda bergerombol, mereka sibuk berbicara, berdiskusi tentang kejadian-kejadian di ibu kota. Diskusi atau tukar pikiran itu pada akhirnya melahirkan suatu gerakan cukup berani dan revolusioner pada waktu itu suhu perjuangan di Pangkalan Berandan mulai memanas, rakyat dan para pemimpin, langsung mengadakan pertemuan untuk mengadakan upacara pengibaran sangsaka Merah Putih dijalan-jalan, dihalaman perkantoran dan rumah-rumah serta komplek Tambang Minyak Pangkalan Beranda. Upacara pengibaran Sangsaka Merah Putih di Pangkalan Berandan, dilaksanakan pada tanggal 19 Agustus 1945 di Komplek Tambang Minyak, dihadiri oleh Panglima Tentara Jepang, sebagai tanda pengakuan yang resmi dari masyarakat Langkat dan Tentara Jepang yang sudah menyerah kalah. Sebelum acara dimulai terlebih dahulu diberi penjelasan kepada khalayak ramai, cara-cara pelaksanaan upacara pengibaran sangsaka Merah Putih yang diikuti bersama. Usai upacara pengibaran sangsaka Merah Putih selanjutnya dibentuk KNI (Komite Nasional Indonesia) dan laskar-laskar pejuang kemerdekaan serta laskar-laskar buruh yang berkantor di Jl. Thamrin, dipimpin olrh pemuda-pemuda dan buruh, diantaranya ARIFIN PULUNGAN, AMINULLAH dll. Sebuah peristiwa bersejarah terjadi di Pangkalan Berandan, Bendera Merah Putih berkibar dengan megah di puncak Pretopping Kilang Minyak Pangkalan Berandan yang pada waktu itu masih dikuasai oleh Jepang. Aksi pengibaran bendera di Puncak Pretopping itu dikoordinir oleh BPI (Barisan Pemuda Indonesia) dan pelakunya adalah BEDUL, peristiwa heroik itu sungguh menakjubkan dan membanggakan dan hal itu sebagai pertanda turunnya bendera Bola Merah Jepang, Hinomaru. Dan pengalihan kekuasaan Seluruh Tambang Minyak Sumatera Utara yang sebelumnya dikuasai SAYUTAI Jepang, akhirnya di Kuasai Pemerintah Republik Indonesia. Kejadian itu tercatat pada tanggal 8 Oktober 1945 seluruh buruh tambang minyak bergerak melakukan pemogokan total dari lapisan buruh paling bawah sampai pimpinan tertinggi serentak bergerak mengadakan aksi mogok. Aksi mogok ini dibantu barisan rakyat, pemuda dan Badan Keamanan Rakyat mendukung para laskar minyak untuk mengambil alih kekuasaan Jepang. Pimpinan Jepang, NAGAHARU yang mengepalai  Kilang Minyak di tendang Keluar dari Ruang Kerjanya dan Kilang Minyak beralih tangan kepada Pihak Indonesia.

petroping 

Di Puncak Pretopping inilah Bendera Merah Putih Berkibar

Sesudah proklamasi Kemerdekaan Indonesia berkumandang di Pangkalan Berandan, namun Pihak Jepang masih merasa enggan untuk menyerahkan Tambang Minyak kepada Buruh Minyak dan Pejuang setempat. Namun Pengusaha dan Karyawan-karyawan Jepang yang ada di tempat itu tidak mampu membendung derasnya tuntutan yang dilakukan oleh para Pemuda, para pejuang dan laskar minyak, akhirnya Kolonel SATO penanggung jawab keamanan perusahaan, kemudian menyerahkan persoalan tersebut kepada atasannya setelah tidak mampu menahan desakan para buruh dan pemuda. NAGAHARU dan NAKAMURA, Kepala bagian Kepegawaian, yang juga kenal dengan DJOHAN, bertindak jauh lebih diplomatis, ia mengatakan setuju untuk membantu menyelesaikan persoalan tersebut.

Mereka bertemu dengan penanggung jawab keamanan perusahaan Kolonel SATO ” Tidakkah anda bersedia menyerah sekarang ?, tanya DJOHAN mengancam.

Kolonel SATO yang keras kepala itu terdesak dan menjawab lemah : ” Baiklah, saya bersedia menyerah asal kepada Pemerintah R.I di Sumatera Utara”.

Jepang tidak mempunyai alternatif kecuali menyerah ditempat itu kepada para penuntut atau tetap mempertahankan yang berarti menimbulkan bentrokan yang dapat menimbulkan pertumpahan darah. Tentara Jepang (Dai Nippon) yang mencoba menghalangi bansa Indonesia menguasai tambang Minyak SAYUTAI, kemudian mengakui perjuangan gigih para pejuang Indonesia, pada Bulan September 1945 diadakan serah terima seluruh Tambang Minyak yang berada di Pangkalan Berandan dari Penguasa Jepang, diserahkan kepada Anggota Pemerintah R.I di Sumatera Utara, disaksikan oleh Komisi Tiga Negara (KTN). Peristiwa ini disusul dengan pembentukan Perusahaan Minyak Nasional Pertama yang diberi nama Perusahaan Tambang Minyak Negara Republik Indonesia (PTMNRI).

Sebagai realisasi penyerahan tambang minyak Pangkalan Berandan, para buruh tambang minyak mengirim utusan untuk menemui pihak Jepang agar segera menyerahkan tambang minyak Pangkalan Berandan ke tangan Bangsa Indonesia.

Delegasi yang diutus adalah sebagai berikut :

DSCN2638 

            • DJOHAN : Ketua Utusan
            • HAMID SIREGAR : Wakil Ketua
            • HUSIN BASRI : Sekretaris
            • SABIRIN : Anggota
            • ABU BAKAR : Anggota
            • MARAHIMIN : Anggota

Perundingan delegasi dengan Jepang mengalami banyak ketegangan, tetapi berkat keberanian dan semangat juang para buruh, maka pihak Jepang terpaksa menerima dan menyarankan supaya Pemerintah Indonesia yang sudah memproklamirkan kemerdekaannya, menerima penyerahan Tambang Minyak dari Pihak Jepang melalui Pihak Sekutu.

Akhirnya permasalahan ini dilimpahkan kepada Gubernus Sumatera Utara TEUKU MOEHAMMAD HASAN atas nama Pemerintah Indonesia, setelah sebelumnya di Pematang Siantar, mereka telah melakukan perundingan dengan Pihak Pimpinan Sekutu, yang dipimpin oleh Mayor FERGUSSON dari Pasukan Inggeris, agar ketentuan serah terima Tambang Minyak Sumatera Utara ini dapat terlaksana.

Gubernur Sumatera Utara TEUKU MOEHAMMAD HASAN kemudian memberikan amanah sebagai berikut :

  1. Timbang Terima Tambang Minyak dari Sekutu yang dipimpin Komandannya yaitu Mayor FERGUSSON kepada Pemerintah Negara Republik Indonesia akan dilaksanakan sebaik mungkin.
  2. Kedatangan Wakil-wakil Sekutu ke Pangkalan Berandan untuk acara timbang terima, akan disambut dan keselamatan mereka di Jamin sepenuhnya oleh Pihak Indonesia dengan ketentuan sebagai berikut :
    1. Tidak diperbolehkan Sekutu datang ke Pangkalan Berandan melalui jalan darat, akan tetapi melalui jalur laut dengan menopang Kapal Laut.
    2. Tidak dibenarkan Pihak Sekutu memeriksa Komplek Perusahaan Tambang Minyak.
    3. Tidak dibenarkan Pihak Sekutu memasuki serta meninjau Kota Pangkalan Berandan.

Hasil tersebut disampaikan kepada Pihak Sekutu melalui Gubernur Sumatera Utara, ternyata syarat-syarat  tersebut dapat diterima dengan baik oleh Pihak Sekutu.

Pada 17 Juni 1946, tepat jam 10 pagi, Kapal berbendera Inggeris yang membawa Delegasi dari Pihak Sekutu untuk melaksanakan Serah Terima penguasaan atas Perusahaan Tambang Minyak Sumatera Utara di Pangkalan Berandan dan Pangkalan Susu kepada Pihak Pemerintah Indonesia. Penyerahan kekuasaan tambang minyak Pangkalan Berandan dilakukan secara syah sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku ketika itu, diserahkan oleh Pemerintah Jepang diwakili oleh NAKAMURA kepada Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh RESIDEN ABDUL KARIM, MS serta Pengacara LUAT SIREGAR. Bertindak atas nama Gubernur Sumatera Utara Republik Indonesia yang dijabat oleh TEUKU MOEHAMMAD HASAN yang ketika itu berkedudukan di Bukit Tinggi.

Gubernur SUMATERA UTARA  : TEUKU MOEHAMMAD HASAN

Rombongan disambut oleh Bupati Langkat ADNAN NUR LUBIS, Wadana Teluk Aru BASIR NASUTION, dan Ketua KNI Wilayah merangkap Komandan Wilayah Teluk Aru Letnan Dua M. HAIYAR. Acara serah terima secara formal dari Pihak Sekutu kepada Pemerintah Indonesia, dilaksanakan di Kantor Besar Perusahaan Tambang Minyak Sumatera Utara di Pangkalan Berandan (Sekarang Kantor Keuangan Pertamina Pangkalan Berandan) juga disaksikan oleh wakil Pers dari Medan MOHAMMAD SAID Pemimpin Redaksi Harian WASPADA Medan.

Tanggal 20 Juni 1946, Gubernur Sumatera Utara TEUKU MOEHAMMAD HASAN mengeluarkan Surat Keputusan yang isinya adalah menugaskan KNI Wilayah Teluk Aru mengatur dan menerbitkan serta mengangkat orang-orang yang tepat dan skill menjadi Pimpinan Umum serta Kepala Bidang PTMNRI Kabupaten Langkat.

Bersamaan dengan Surat Perintah tersebut, diangkat sebagai Pimpinan dan Kepala Bidang PTMNRI sebagai berikut :

DSCN2703 

        • S.H. SUPARDAN        : Pimpinan Umum PTMNRI
        • DJOHAN                     : Kepala Bidang Tehnik PTMNRI

Pejuang Laskar minyak melawan serdadu-serdadu Jepang itu telah membuktikan tekad bulat kita semua, Terbukti  bahwa bangsa yang baru merdeka kita telah sanggup membela kepentingan kita sendiri. Inilah satu bukti bahwa bangsa kita sanggup merdeka.  Kita bukan kerbau atau keledai seperti kata penjajah dahulu. Kita adalah bangsa yang sekarang berdiri tegak sama tinggi, kita bisa berkacak pinggang dan berkata ”KAMU KELUAR DARI NEGERIKU SEKARANG”.

Pada tanggal 5 Juli 1946, perwakilan Negara Jepang NAKAMURA bersama Pasukan Tentara Pendudukan Jepang  yang berjumlah sekitar 2.942 orang diberangkatkan ke Belawan Deli dan selanjutnya di pulangkan ke Jepang, dan pada saat itu secara penuh Tambang Minyak Sumatera Utara menjadi milik Pemerintah Republik Indonesia.

Namun sebelum berangkat NAKAMURA berbisik kepada DJOHAN : ”Tentara Sekutu telah menyerahkan kepada Saya Lapangan ini dan sekarang kusaerahkan kepada Saudara” , orang yang bernama NAKAMURA ini beberapa tahun kemudian datang kembali ke Pangkalan Berandan, tapi tidak lagi dalam kapasitasnya sebagai Tentara melainkan sebagai seorang Pengusaha Minyak yang kembali ingin berusaha di Pangkalan Berandan.

Pasukan Sekutu Mendarat 1 

Pasukan SEKUTU Mendarat

Kekuasan Dai Nippon telah tumbang, kekuasaan yang telah membawa penderitaan bangsa Indonesia selama 3,5 Tahun lamanya, Jutaan penduduk Indonesia telah menjadi korban kobaran Perang Dunia II, perang yang bukan mejadi perang kita.

Jatuhnya kekuasaan Jepang karena serangan Bom Atom sekutu itu, mengubah jalan sejarah bangsa kita, di Pangkalan Berandan, kekuasaan untuk menguasai tambang minyak telah beralih ketangan Republik, Pemerintah Indonesia menerima Perusahaan Tambang Minyak itu, dengan kondisi Kilang penyulingan minyak (Refinery) dalam keadaan cukup baik, kerusakan kerusakan akibat pemboman Sekutu, pada tanggal 4 Januari 1945 telah sepenuhnya diperbaiki. Setelah Kilang Tambang Minyak Negara Republik Indonesia berada ditangan bangsa Indonesia, seluruh para pekerja kembali bekerja dengan penuh semangat.

Segera sesudah terjadi timbang terima, buruh-buruh perminyakan ditempat itu segera melakukan beberapa perbaikan untuk dapat meningkatkan produksi Kilang Minyak Pangkalan Berandan, yang dibangun oleh DE KONINKLIJKE pada  tahun 1891, memiliki kapasitas produksi sebanyak 2,4 ribu barrel per-hari.

Kilang ini dirancang untuk mengolah Minyak Mentah dari Daerah Sumatera Bagian Utara dengan teknologi Distilasi Atmosfir yang sangat sederhana. Pada awalnya hasil produksi minyak dapat disalurkan serta dilakukan prndistribusian berbagai jenis minyak dengan berjalan tertib. Didistribusikan ke Daerah Aceh, Sumatera Timur dan Tapanuli. Namun tidak beberapa lama, Badan Badan Ketentaraan dan Kelaskaran berebut menginginkan jatah-jatah Istimewa, sehingga menyulitkan Pimpinan PTMNRI untuk mengatur dan membagi serta mendistribusikan minyak tersebut.

18_1 

Kilang BBM Pangkalan Berandan sepeninggal Pendudukan Jepang

Akhirnya Pemerintah Sumatera, setelah menrima laporan dari Bupati Langkat pada waktu itu ADNAN NUR LUBIS meminta kepada Panglima Komando Tentara Sumatera agar perusahaan Tambang Minyak Negara Republik Indonesia statusnya di Militerisasi-kan.

Perihal kejadian tersebut dapat dimaklumi dan disetujui, dalam waktu singkat, yaitu pada Bulan Oktober 1946, Mayor Jendral SUHARDJO HARDJO WARDOJO selaku Selaku Panglima Komandan Tentara Sumatera datang ke Pangkalan Berandan meresmikan Militerisasi Perusahaan Tambang Minyak Negara Republik Indonesia, dengan melantik :

  • S.H. SUPARDAN     : Sebagai Mayor Tituler
  • DJOHAN                  : Sebagai Kapten Tituler

Demikian pula kepada Kepala – Kepala Bidang lainnya, dilantik menjadi Kapten Tituler dan Kepala Eksploitasi Pangkalan Susu menjadi Letnan Satu Tituler.

Sejak di Militerisasi-kan, Perusahaan Tambang Minyak Negara Republik Indonesia, para pejabat Pemerintahan RI sudah tidak berhak mencampuri permasalahan intern, kecuali yang berhubungan dengan permasalahan internal.

Sebulan kemudian , Tambang Minyak telah membentuk Batalyon Tentara Pengawal Kereta Api dan Tambang Minyak, dibwah Kepemimpinan Kapten NAZARUDDIN selaku komando TKP / TM (Tentara Pengawal Kereta Api dan Tambang Minyak). Dalam penguasaan Indonesia, Kilang ini hanya menghasilkan sedikit bahan bakar yang hanya cukup digunakan oleh Kelompok Pejuan Republik Indonesia. Mengapa masih berjuang ?, hal itu disebabkan serdadu-serdadu Belanda tiba kembali ke Indonesia, dengan tujuan untuk merebut kembali bekas tanah jajahan Belanda ini. Mereka lupa atau pura-pura tidak mengerti, bahwa Indonesia telah ... MERDEKA ... !!!!

 Dedicated By : E.Franjaya/Desa PURAKA-II

Beri Komentar

Komentar Facebook

layananmandiri

Hubungi Aparatur Desa Untuk mendapatkan PIN

Statistik Penduduk

Lokasi Kantor Desa

Alamat:Jalan Besitang Tangkahan Lagan, Puraka II Kecamatan Sei Lepan - Kode Pos .20857
Desa : Puraka II
Kecamatan : Sei Lepan
Kabupaten : Langkat
Kodepos : 20857

Peta Wilayah Desa